Petani Amerika Serikat memasuki musim tanam 2026 dengan biaya pupuk dan bahan bakar lebih tinggi, sementara harga kedelai masih tertekan. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz mengangkat harga energi dan menghambat ekspor pupuk nitrogen dari Teluk Persia. Tarif AS dan tarif balasan Tiongkok juga mengubah jalur ekspor kedelai sejak 2025. Tekanan biaya dan pasar itu kini masuk dalam perdebatan menjelang pemilu sela pada November.

Survei pada April 2026 melibatkan 974 petani dan peternak di 44 negara bagian. Sebanyak 94 persen responden menyebut perang Iran menaikkan biaya pupuk, energi, atau keduanya. Sebanyak 39 persen masuk kategori pemilih yang pilihannya masih terbuka pada 2026. Definisi kategori tersebut lebih luas daripada berpindah dukungan ke Partai Demokrat.

Selat Hormuz menghubungkan perang dengan biaya pupuk

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari diikuti perlambatan tajam pelayaran melalui Selat Hormuz. Arus minyak di jalur itu pada semester I 2025 setara sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Lebih dari 20 persen perdagangan gas alam cair global juga melewati Hormuz pada periode yang sama. Gangguan pengiriman menaikkan biaya bahan bakar sekaligus membatasi pasokan bahan baku pupuk.

Negara yang terpapar gangguan Teluk Persia mencakup hampir 49 persen ekspor urea global dan sekitar 30 persen ekspor amonia. Pasar pupuk Amerika Serikat tetap mengikuti perubahan harga global meski sebagian pasokan diproduksi di dalam negeri. Solar juga dipakai untuk persiapan lahan, penanaman, pemupukan, dan pengangkutan hasil. Kenaikan energi karena itu masuk ke lebih dari satu komponen biaya usaha tani.

Pupuk nitrogen penting untuk produksi jagung. Todd Littleton, petani di Tennessee, memperkirakan biaya pupuknya bertambah US$100.000, atau 40 persen dari tagihan tahun sebelumnya. Ia menanam jagung, kedelai, dan gandum. Kasus Littleton menunjukkan mekanisme kenaikan biaya, bukan ukuran nasional bagi semua usaha tani.

Tarif menekan pasar yang sudah kelebihan pasokan

Pasokan kedelai global yang melimpah, didorong antara lain oleh produksi Brasil, telah menekan harga dalam beberapa tahun terakhir. Biaya benih, pestisida, peralatan, dan lahan justru meningkat. Menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat yang dirangkum AP, biaya operasi kedelai tetap tinggi sejak 2020 dan diproyeksikan naik lagi pada 2026. Selisih antara harga jual yang rendah dan biaya yang tinggi mempersempit keuntungan petani.

Tarif pemerintahan Donald Trump pada April 2025 dibalas Tiongkok dan praktis menutup pasar utama kedelai Amerika Serikat. Kesepakatan akhir 2025 menetapkan pembelian 12 juta ton metrik hingga Januari dan sedikitnya 25 juta ton per tahun selama tiga tahun. Tiongkok kemudian memenuhi sasaran awal itu, tetapi tetap menambah pembelian dari pesaing seperti Brasil. Pemulihan pesanan karena itu belum menghapus perubahan jangka panjang dalam persaingan ekspor.

Survei menunjukkan keraguan, bukan perpindahan suara

Amato Advisors menugaskan Farm Journal untuk menjalankan survei tersebut. Pengumpulan jawaban berlangsung pada April 2026. Sebanyak 78 persen responden menempatkan biaya mesin, pupuk, bahan bakar, benih, atau bahan kimia dalam tiga masalah terbesar. Sebanyak 55 persen menilai kebijakan federal merugikan usaha mereka, sedangkan 19 persen menilai kebijakan itu membantu.

Kelompok 39 persen itu mencakup responden yang mempertimbangkan partai lain, kandidat independen, tidak memilih, atau belum menentukan pilihan. Enam dari sepuluh responden mengatakan mereka selalu atau biasanya memilih Partai Republik. Hanya 6 persen yang biasanya memilih calon Partai Demokrat. Hasil itu memberi sinyal ketidakpastian politik, tetapi tidak memprediksi jumlah kursi yang akan berpindah.

Bantuan tunai belum memulihkan seluruh tekanan

Departemen Pertanian Amerika Serikat mengumumkan bantuan satu kali senilai US$12 miliar bagi petani yang terdampak gangguan pasar dan kenaikan biaya produksi. Lembaga itu juga menyebut lebih dari US$30 miliar bantuan tambahan telah disalurkan sejak Januari 2025. Dana tersebut ditujukan untuk menahan kerugian, bukan memulihkan jalur pelayaran atau pasar ekspor. Biaya pupuk, solar, hasil panen, dan pesanan Tiongkok tetap menentukan kondisi usaha menjelang pemilu.

Indonesia memiliki penyangga yang berbeda

Kementerian Pertanian (Kementan) pada 16 April 2026 menyatakan ketersediaan pupuk Indonesia aman di tengah gangguan rantai pasok global. Kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia disebut mencapai 14,65 juta ton per tahun. Pemerintah juga menghitung potensi kelebihan pasokan sekitar 1,5 juta ton dan menyatakan kebutuhan domestik tetap didahulukan. Pernyataan itu menunjukkan posisi awal yang berbeda dari tekanan pasokan yang dilaporkan petani Amerika Serikat.

Data Kementan berupa kapasitas dan persediaan nasional, bukan catatan harga eceran atau pemerataan pasokan di setiap daerah. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan data resmi dari lembaga Indonesia tentang dampak perang Iran dan tarif AS–Tiongkok terhadap biaya input petani per daerah. Karena itu, dampak langsung terhadap pendapatan petani Indonesia belum dapat dihitung.