Data otoritas Kongo yang dikutip Associated Press pada 20 Agustus 2026 mencatat 5.208 kasus terkonfirmasi dan 2.476 kematian akibat Ebola Bundibugyo. Tingkat kematian kasus mencapai 47,5 persen. Wabah yang diumumkan pada 15 Mei itu telah menjangkau enam provinsi di bagian timur negara tersebut. Penularan masih bergerak lebih cepat daripada pelacakan kontak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengumumkan alokasi awal 70.000 dosis Ervebo untuk Kongo. Keputusan itu dibuat oleh Kelompok Koordinasi Internasional untuk Penyediaan Vaksin (ICG). Sebanyak 20.000 dosis disiapkan bagi uji klinis fase 3. Sisa 50.000 dosis ditujukan kepada petugas kesehatan dan petugas garda depan. Alokasi itu menjawab kebutuhan darurat, tetapi belum membuktikan Ervebo melindungi manusia dari virus Bundibugyo.

Ervebo dibagi antara uji klinis dan perlindungan petugas

Ervebo berlisensi untuk penyakit Ebola akibat virus Ebola, yang sebelumnya disebut ebolavirus Zaire. Lisensi itu tidak mencakup penyakit akibat virus Bundibugyo (Bundibugyo virus disease/BVD). WHO menyatakan perlindungan Ervebo terhadap BVD pada manusia belum diketahui. Data laboratorium dan hewan memberi petunjuk kemungkinan perlindungan, bukan bukti efektivitas pada manusia.

Uji klinis fase 3 akan mengukur dampak vaksin terhadap virus Bundibugyo. WHO menekankan bahwa penerima vaksin perlu memperoleh penjelasan tentang risiko, potensi manfaat, dan keterbatasannya sebelum memberikan persetujuan. Penggunaan di luar uji mengikuti rekomendasi Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi WHO (SAGE). Pengumuman tersebut belum merinci tanggal kedatangan atau laju pemberian dosis.

Angka 5.208 kasus berasal dari laporan 20 Agustus

Associated Press melaporkan tingkat kematian kasus mencapai 70 persen di Provinsi Kivu Utara. Angka provinsi itu lebih tinggi daripada rata-rata nasional 47,5 persen. Perbedaan ini menunjukkan beban wabah dan kapasitas respons tidak seragam. WHO menjelaskan angka harian bersumber dari laporan pemerintah Kongo dan bisa direvisi secara retrospektif.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut wabah bergerak lebih cepat daripada wabah Ebola sebelumnya. Ketidakamanan, pengungsian, dan mobilitas di jalur jalan raya, sungai, serta pertambangan memperberat respons. Kematian di luar pusat perawatan dan daftar kontak menandakan rantai penularan belum seluruhnya ditemukan. WHO menyatakan epidemi masih jauh dari terkendali.

Uji kapal dekat Kinshasa tidak menemukan kasus

Sebuah kapal penumpang dikarantina di Pelabuhan Maluku, Kongo, 65 kilometer dari Kinshasa, setelah mantan penumpang meninggal dengan gejala menyerupai Ebola. Lebih dari 200 penumpang diperiksa oleh tim kesehatan pemerintah Kongo. Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo (INRB) menyatakan semua kasus yang dicurigai di kapal negatif untuk virus Bundibugyo. Kapal itu juga didekontaminasi.

Hasil negatif meredakan kekhawatiran bahwa kapal tersebut membawa virus ke Kinshasa. Mantan penumpang turun di Pimu, Provinsi Mongala, lebih dari 1.000 kilometer dari ibu kota. Belum ada kasus terkonfirmasi di Kinshasa ketika hasil pemeriksaan diumumkan. Temuan itu terbatas pada penumpang yang diperiksa dan tidak menilai jalur perjalanan lain.

Petugas kesehatan menunjukkan kartu informasi pencegahan penyakit kepada warga (ilustrasi)
Pelacakan kontak dan komunikasi dengan warga menjadi bagian utama respons Ebola di tingkat komunitas (ilustrasi).

Kasus di luar daftar kontak membebani respons

Sebanyak 60–70 persen kasus baru ditemukan pada orang yang sebelumnya tidak dipantau sebagai kontak. Petugas sering baru mengenali infeksi setelah pasien jatuh sakit dan mungkin telah berkontak dengan orang lain. Kondisi tersebut membuat daftar kontak tertinggal dari laju penularan. Persentase itu adalah potret lapangan pertengahan Agustus, bukan ukuran yang tetap.

Tim pengawasan di Nizi menerima rata-rata 60–70 laporan per hari dan bekerja hingga larut malam. Sejumlah petugas membeli disinfektan dengan uang sendiri karena perlengkapan dasar tidak tersedia. Pemogokan akibat tunggakan upah, ancaman kelompok bersenjata, jalan buruk, dan informasi keliru juga menghambat respons. Alokasi vaksin tidak menggantikan kebutuhan pelacakan kontak dan kerja bersama komunitas.

Penilaian Indonesia masih memakai data Juni

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menilai risiko terdeteksinya kasus impor Ebola dalam enam bulan sebagai rendah. Penilaian cepat itu dilakukan pada 10 Juni 2026 dengan tingkat keyakinan sedang. Analisisnya memakai data wabah hingga 8 Juni dan mencatat tidak ada penerbangan atau pelayaran langsung dari negara terjangkit. Dokumen tersebut juga menyebut belum ada kasus Ebola yang ditemukan di Indonesia pada saat penilaian.

Kemenkes mencantumkan kekurangan data tentang pekerjaan warga negara Indonesia (WNI), volume kedatangan, serta serologi manusia dan hewan di Indonesia. Dokumen itu belum memuat lonjakan kasus pada Agustus maupun alokasi Ervebo. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan penilaian resmi Kemenkes yang memakai angka Agustus. Karena itu, hasil berisiko rendah perlu dibaca bersama tanggal dan batas data penilaiannya.